A D E
March 5th, 2007 by harison-harisPada mulanya adalah alis. Alis yang tebal. Alis yang sempat membuat mataku tak tahu diri. Bukan berarti mataku adalah jenis mata yang melulu tahu diri. Tapi saat itu, saat pertama melihat alis tebal itu, ketaktahuan-diri mataku mencapai tabiat yang paling menggelisahkan.
Aku tak malu-malu mengakui alis itulah alis terbaik yang pernah kulihat di UI. Bentuknya pas dengan separas wajah yang nyaris bulat, yang kadang dihiasi dengan sedikit jerawat. Dan mata yang kadang menyipit. Dan rambut lebat yang membuat daun-daun telinga seolah absen. Semuanya adalah paket yang menyehatkan mata. Mata yang tak tahu diri.
Sepertinya keputusanku menobatkan alis tebal itu sebagai yang terbaik di UI –yang membuat mataku tak tahu diri— itu adalah sebuah keputusan yang terburu-buru. Sembrono. Tapi aku tak takut diolok-olok dengan keputusanku itu.
Di UI, terutama di FISIP, banyak alis indah atau di-indah-indahkan. Dan aku tentu tidak bisa mengelak untuk mengakui bahwa banyak sekali alis-alis indah berseliweran –sesering lalu lalang kendaraan yang melintas di Margonda.
Ya, pada mulanya adalah alis. Kemudian wajah yang tampak bosan dengan berbagai celoteh dosen di kelas. Kadang dia menguap. Kadang dia menyandarkan kepalanya di lembaran papan yang satu paket dengan kursi kelas. Selebihnya adalah ketelatenan. Ketelatenan yang mengagetkan. Semua hutang dia dengan rapi dibariskan di sebuah buku mungil. Juga ada catatan remeh-temeh lainnya. Sepertinya, si pemilik alis tebal ini sangat terlatih menekuri hal itu. Termasuk menyimpan nomor telpon yang belum tentu pernah ditelpon.
Beberapa hari yang lalu, atas bantuan kawan, aku mendapatkan nomor telpon si pemilik alis tebal ini. Aku menelponnya. Panggilan telponku tak mujarab. Beberapa menit kemudian dia baru mengirim SMS:
Wazzup mas har?! Aku br bgn tdr. Td nlf ya
Aku kaget dengan kekagetan yang tak bisa ditukar dengan jenis kegagetan yang lain. Dari mana dia tahu aku yang telpon? Ingatanku memang tidak handal, tapi masih cukup handal kalau hanya sekadar mengingat siapa saja yang pernah minta nomor HP-ku. Dan dia, si pemilik alis tebal itu, bukanlah orang yang pernah minta no HP-ku.
Tapi kekagetan dalam stadium yang lebih tinggi aku rasakan ketika suatu hari dia memulai debut sebagai blogger di Friendster. Dia menulis tentang aku, dengan detail yang membuatku merasa malu: betapa orang yang kuanggap cuek-bebek dengan orang lain itu ternyata orang yang dengan cermat dan seksama mengamati orang lain. Aku terharu.
, Aku coba kutip tulisan wanita beralis tebal itu:
….Sebuah penggalan kalimat medok yang keluar dari mulutnya dan membuat saya terbahak-bahak: "De, jangan tersinggung, ya. Saya menunggu cukup lama untuk menanyakan hal ini sama kamu. saya penasaran sekali, sebenarnya alis kamu itu asli atau nggak? abis tebel banget.." yah selebihnya saya kurang inget, daripada saya tulis taunya bukan kalimat seperti yang dia bilang waktu itu, ntar malah jadi fiksi…..
Setelah itu, karena kesalahpahaman virtual, dia menulis blog lagi tentang diriku. Aku agak malu mengutipnya karena isinya semua serba bagus. Aku kira, aku tak seindah itu.
Pada mulanya alis, dan akhirnya sore ini. Dia persis duduk di sebelahku di kantin psikologi UI. Tak ada jarak. Rapat. Baik secara fisik maupun psikologis. Dengan terus terang dia mengaku mengantongi uang dua ribu. Sebuah pengakuan yang mengharukan. Selebihnya: adalah sebuah obrolan yang semakin mempertegas kepongahanku.
Ade, adalah manusia yang tidak hanya punya alis tebal. Tapi manusia yang hangat di sore hari. Dan akan semakin hangat di waktu yang lain. Ya, jujur saja, tulisan ini tidak berbicara soal alis yang tebal. Tapi soal kehangatan yang tak tipis. Berlapis-lapis. Dan itu adalah milik Ade. Ade Putri.